Indonesia

Values & campaigns
Living our values

stop trafficking

Trafficking. Cerita yang terjadi sejauh ini.

stop trafficking

Perdagangan manusia (trafficking) sedang terjadi di berbagai negara di seluruh dunia (1), tidak hanya di negara miskin. Menurut data PBB, perdagangan manusia merupakan industri kejahatan ketiga paling besar dan paling cepat berkembang di dunia (2) dengan lebih dari 1,2 juta anak dan remaja diperdagangkan setiap tahunnya (3).

Untuk mengatasi fenomena perdagangan manusia yang semakin meluas ini, The Body Shop meluncurkan kampanye global untuk menghentikan perdagangan anak dan remaja, yaitu kampanye Stop The Trafficking of Children and Young People. Bekerja sama dengan ECPAT (End Child Prostitution, Child Pornography and the Trafficking of Children for Sexual Purposes) kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan menggalang dana yang diperlukan bagi korban dan mereka yang berisiko menjadi korban perdagangan manusia.

Sejak diluncurkan pada tahun 2009, kampanye Stop The Trafficking of Children and Young People telah berhasil menggalang dukungan di lebih dari 40 negara di seluruh dunia. Di New York dan Toronto, ratusan orang melakukan rally dengan aksi jalanan yang terorganisir untuk mendukung kampanye ini. Di Thailand, customer The Body Shop menulis pesan pribadi untuk mendukung korban perdagangan manusia di ECPAT Foundation Shelter. Di Denmark, staf toko berusaha meningkatkan kesadaran dengan membagi-bagikan leaflet di daerah lokalisasi. Di Indonesia, kami turun ke jalanan dalam acara Stop The Trafficking Rally On The Street dan berhasil mengumpulkan 1.004 petisi hanya dalam waktu 4 jam.

Tahun 2009 juga merupakan tahun diluncurkannya The Body Shop® Soft Hands Kind Heart Hand Cream. Keuntungan dari setiap hand cream yang terjual akan didonasikan kepada ECPAT dan organisasi lainnya yang turut membantu korban perdagangan manusia dan mendanai program-program pencegahan. Sejauh ini, satu Soft Hands Kind Heart Hand Cream terjual setiap 30 detik secara global.

Selain meluncurkan produk khusus, kami juga mengeluarkan petisi yang berisi tuntutan kepada pemerintah agar mengimplementasikan kebijakan dan melegalisasi peraturan anti-perdagangan manusia yang ketat, serta mendedikasikan lebih banyak sumber daya untuk membantu para korban. Upaya kami tidak berhenti sampai di situ saja. Karena kampanye ini adalah suatu kampanye global, sasaran kami adalah untuk bergandengan tangan bersama ribuan penandatangan di seluruh dunia untuk membawakan petisi kami ke hadapan PBB pada tahun 2011. Sejauh ini enam juta lebih petisi sudah terkumpul di seluruh dunia dan masih akan terus bertambah, petisi ini merupakan petisi terbesar yang pernah dilakukan oleh The Body Shop. Di tahun 2011 saja, Afrika Selatan, Australia, Belanda, Denmark, Inggris, Malaysia, dan Portugal sudah menyerahkan petisi mereka kepada pemerintah. Target kami di tahun 2012 adalah menyampaikan semua petisi ini kepada PBB. Silakan klik link ini untuk mengetahui perkembangan kampanye ini di seluruh dunia http://www.thebodyshop.com/_en/_ww/values-campaigns/campaign_progress.aspx.

Serah Terima Tujuh Juta Petisi kepada PBB

 

The Body Shop dan ECPAT mempersembahkan salah satu gerakan pengumpulan petisi terbesar dalam sejarah Perserikatan Bangsa Bangsa untuk menghentikan perdagangan seks komersial terhadap anak dan remaja. The Body Shop Indonesia ikut andil dalam gerakan ini, bekerjasama dengan ECPAT Indonesia pada tanggal 26 Juli 2011 kemarin telah dilaksanakan serah terima 210.176 petisi Stop The Trafficking of Children and Young People dari The Body Shop Indonesia dan ECPAT Indonesia kepada pemerintah RI melalui Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

 

Pada tanggal 29 September 2011 The Body Shop dan ECPAT menyerahkan lebih dari tujuh juta petisi yang sudah ditandatangani oleh customer dari berbagai belahan dunia kepada Presiden Dewan Hak Asasi Manusia, H.E. Ms. Dupuy Lassare agar pemerintah di seluruh dunia segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan perdagangan seks komersial terhadap anak dan remaja. Ada 14 negara yang telah berkomitmen untuk mengadopsi peraturan baru sebagai bentuk respon terhadap gerakan petisi ini. Negara-negara tersebut yakni Malta, Denmark, Portugal, Afrika Selatan, Malaysia, Norwegia, Swis, Pakistan, Romania, Taiwan, Irlandia, Indonesia, Filipina, dan Selandia Baru.

 

 

Saat menerima petisi, Presiden Dewan HAM, H.E. Ms. Dupuy Lassere mengatakan, "Petisi ini merepresentasikan kegiatan bersejarah bagi Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa Bangsa dalam membangun keberhasilan gerakan yang nyata dan untuk menginspirasi pemerintah untuk berpartisipasi dan bertindak menyelesaikan kejahatan ini baik secara nasional maupun internasional dan melakukan agenda pencegahan serta rehabilitasi korban."

 

 

Sebanyak 65 negara telah mengikuti kampanye ini dan 35 pemerintah yang diwakili oleh perwakilannya masing-masing telah menerima petisi, dan juga telah bertemu dengan perwakilan dari The Body Shop, ECPAT beserta lembaga lokal yang turut andil untuk mendiskusikan tindakan yang harus diambil dan resiko-resiko yang mungkin terjadi ketika melakukan tindakan-tindakan tersebut. Dengan lebih dari 2,3 juta tanda tangan yang terkumpul di Eropa, kampanye ini telah menghasilkan petisi untuk mendukung hak-hak asasi manusia terbanyak yang pernah diajukan kepada Uni Eropa dan telah menerima beragam penghargaan bergengsi serta dukungan dari tokoh-tokoh penting termasuk mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton yang menamakan gerakan ini sebagai "pendekatan yang baik untuk dicontoh dalam rangka menangani tantangan global yang spesifik".

 

Christopher Davis, International Campaigns Director untuk The Body Shop sekaligus pemenang United Nations Business Leaders Award Against Human Trafficking mengungkapkan, "Sukses kami dalam membuktikan bahwa pendekatan yang dilakukan The Body Shop melalui kampanyenya dapat mengubah dunia. Menyatukan suara masyarakat dunia untuk perubahan sosial dapat menginspirasi pemerintah untuk segera mengambil tindakan yang dapat mencipatakan perubahan jangka panjang yang berkelanjutan, jauh lebih efektif daripada fokus kepada aktivitas penggalangan dana yang bersifat jangka pendek. Sejauh ini, apa yang telah kami capai melalui kampanye kami telah menciptakan dunia yang lebih aman bagi anak-anak masa depan."

 

 

 

Kathleen Speake, Executive Director of ECPAT International menambahkan, "Perdagangan seks komersial terhadap anak dan remaja adalah kejahatan yang mengerikan karena pelakunya terbebas dari hukuman dan anak-anak yang menjadi korban seringkali dikriminalisasikan atau ditelantarkan tanpa perhatian khusus. Dukungan bagi kampanye ECPAT dan The Body Shop yang belum pernah ada sebelumnya telah menunjukkan bahwa dunia menuntut perubahan dan pemerintah mulai mendengar tuntutan tersebut. Bersama dengan Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa Bangsa, kami akan melanjutkan perjuangan kami dalam melawan kejahatan mengerikan yang menghantui masa depan anak-anak, menyerukan kepada pemerintahan di seluruh dunia untuk segera mengambil langkah, serta melakukan kerja sama produktif dengan berbagai pemangku kepentingan."

 

 

Untuk informasi lebih lanjut tentang kampanye Stop Trafficking of Children & Young People campaign, silakan kunjungi www.thebodyshop.com or www.ecpat.net

 


Kampanye Stop The Trafficking of Children & Young People di Indonesia

 

2009

Kampanye ini dimulai bulan Agustus dengan menggunakan Wild Cherry Body Butter 50 ml sebagai produk ambasador. Selama periode Agustus – Desember sejumlah Rp 34.000.000,00 telah terkumpul melalui penjualan produk ini.

 

2010

Di tahun ini untuk pertama kalinya petisi Stop The Trafficking diluncurkan secara resmi di Hong Kong Cafe, Jakarta dengan dihadiri oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Gumelar, Aktivis Perempuan Yenny Wahid, Presiden ECPAT Affiliate Group in Indonesia Profesor Irwanto, CEO The Body Shop Indonesia Suzy Hutomo serta Farhan dan Raditya Dika sebagai campaign ambassador, Interpol, UNICEF, ILO, dan beberapa NGO serta media. Melalui petisi ini, kami ingin menunjukkan keseriusan kami dalam memerangi perdagangan manusia.

 

   

 

Sosialisasi kampanye ini juga dilakukan di semua toko kami, dimulai pada 5 Agustus berupa peluncuran produk ambasador Soft Hands Kind Heart Hand Cream, di mana semua keuntungan dari penjualan produk ini akan didonasikan kepada ECPAT Affiliate Group in Indonesia. Selain itu, setiap customer yang berbelanja kami libatkan untuk mengisi petisi.

 

 

Selain petisi yang bisa diisi di semua toko kami, petisi online juga diluncurkan untuk mencapai sebanyak mungkin orang. Petisi ini bisa diakses melalui website The Body Shop Indonesia http://www.thebodyshop.com/_en/_ww/values-campaigns/marketpetitions/indonesia/stop-trafficking-sign-indonesiaba-petition-Market.aspx.

 

Lebih dari 110.000 petisi telah terkumpul sepanjang 2010 dan 19,796 buah Soft Hands Kind Heart Hand Cream terjual.

 

Donasi senilai Rp 400.000.000,00 telah kami donasikan kepada ECPAT Affiliate Group in Indonesia untuk program pemberdayaan korban trafficking.

 

Atas upaya melawan trafficking, The Body Shop Indonesia menerima penghargaan Millenium Development Goals dari Metro TV untuk kategori kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

 

 

2011

Sejak Agustus 2009 sampai April 2011 telah terjual 22.010 buah Soft Hands Kind Heart Hand Cream.

 

Stop The Trafficking Rally On The Street

Acara ini diadakan pada Minggu 13 Februari saat Car Free Day, ketika jalan protokol Sudirman–Thamrin bebas dari kendaraan bermotor untuk mendukung dan mengurangi pencemaran lingkungan dan isu terkait perubahan iklim. Pada hari itu, The Body Shop Indonesia mengadakan Stop The Trafficking Rally On The Street yang diadakan untuk mendukung program kami mengumpulkan petisi dari target awal 100.000 menjadi 200.000 dengan melibatkan masyarakat luas.

 

Dengan mengusung tema "Love Others...Say NO! To Human Trafficking", kami merayakan momentum Valentine dengan mengundang masyarakat untuk mendukung kampanye yang dimeriahkan oleh Youth Percussion, Happening Art, Eco-cycling bikes, dan komunitas sepeda ini.Dalam waktu empat jam, kami berhasil mengumpulkan 1.004 petisi, menjual 16 buah Soft Hands Kind Heart Hand Cream, dan melibatkan lebih dari 400 orang sebagai partisipan.

 

Salah satu tokoh yang diundang adalah Yenny Wahid (aktivis perempuan) yang dalam orasinya mengatakan, "Kasus trafficking bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Ini bisa terjadi kepada siapa saja termasuk orang-orang di sekitar kita. Saya menyatakan bahwa saya mendukung sepenuhnya kampanye ini untuk melindungi anak-anak kita serta anak muda dari masa depan yang buruk. Terima kasih The Body Shop. Mari kita dukung kampanye mereka!"

 

   

 

Berkerjasama dengan ikatan mahasiswa, kami telah mengunjungi beberapa kampus untuk memberikan seminar tentang fakta-fakta trafficking yang terjadi di Indonesia sekaligus mengumpulkan petisi. Kampus-kampus yang sudah berpartisipasi antara lain Atmajaya, Universitas Padjajaran, Universitas Parahyangan, dan Universitas Pelita Harapan. Dari keempat kampus ini terkumpul 1.640 petisi.

 

Melihat reaksi positif dari masyarakat, kampanye ini kembali kami lakukan di semua toko kami pada 26 Mei – 8 Juni. Staf toko yang telah dibekali training tentang fakta-fakta terbaru trafficking kini lebih aktif mensosialisasikan kampanye ini kepada customer.

 

 

Penyerahan Petisi Stop The Trafficking of Children & Young People

Selasa, 26 Juli 2011 menjadi hari penting bagi The Body Shop Indonesia karena telah berhasil menyerahkan 210.176 petisi Stop The Trafficking of Children & Young People kepada Ibu Linda Gumelar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai wakil pemerintah.

 

 

Kampanye yang telah berlangsung sejak tahun 2009 ini menjadi kampanye terbesar dan tersukses sepanjang sejarah The Body Shop Indonesia, karena selain banyaknya petisi yang terkumpul, donasi sebesar Rp 910.880.000,00 dari hasil penjualan lebih dari 30.000 Soft Hands Kind Heart Hand Cream juga telah diberikan kepada ECPAT Indonesia. ECPAT merupakan organisasi yang bergerak di bidang perlindungan anak dan menjadi mitra kami selama kampanye ini berlangsung. Donasi yang diberikan akan digunakan untuk rehabilitasi para korban. Banyaknya petisi dan donasi yang terkumpul merupakan bukti besarnya perhatian dan dukungan masyarakat, khususnya customer The Body Shop.

 

 

Penyerahan petisi dilakukan di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang dihadiri oleh staf The Body Shop, media, rekan-rekan LSM, dan wakil dari Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Drs. Agung Sabar Santoso. Penyerahan petisi dan donasi secara simbolis dilakukan oleh Ibu Suzy Hutomo (CEO The Body Shop Indonesia) dan Prof. Irwanto (Presiden ECPAT Indonesia) kepada Ibu Linda Gumelar. Dengan diserahkannya petisi ini, diharapkan pemerintah:

 

1. Mengintegrasikan konvensi PBB untuk anak dan remaja dalam perundang-undangan di Indonesia. Saat ini undang-undang mengenai perdagangan orang belum tegas melindungi anak-anak di bawah 18 tahun dari kejahatan perdagangan manusia;
2. Menyediakan informasi dan pendidikan tentang kejahatan perdagangan manusia kepada masyarakat;
3. Menyediakan bantuan berupa rehabilitasi bagi anak-anak dan remaja korban perdagangan seks komersial.

 

 

The Foundations

 

Donasi sebesar Rp 910.880.000,00 dari hasil penjualan lebih dari 30.000 Soft Hands Kind Heart Hand Cream yang telah diberikan kepada ECPAT Indonesia digunakan untuk memfasilitasi keenam yayasan berikut ini.

 

Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA)

PKPA adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat berbentuk yayasan dengan misi dan visi menegakkan hak-hak anak dan mengedepankan kepentingan terbaik mereka. Dalam mengaplikasikan visi tersebut, PKPA kerap melakukan pendampingan anak dalam situsi sulit, melakukan riset dan kajian, dan mengupayakan perubahan kebijakan baik di tingkat lokal maupun nasional. Salah satunya adalah program layanan langsung PKPA Medan terhadap korban eksploitasi seksual komersial anak (ESKA).

 

Program ini bertujuan untuk mengembangkan kreativitas dan rasa percaya diri korban. Dari hasil monitoring dan wawancara diputuskan 20 anak menerima manfaat langsung: 15 anak yang dilacurkan mengikuti kursus salon kecantikan, 3 anak korban trafficking untuk tujuan pelacuran, dan 2 anak korban pernikahan dini mendapatkan beasiswa di tingkat pendidikan formal, alat tulis, dan seragam sekolah. Sementara untuk pemulihan mental korban ESKA, PKPA memberikan layanan konseling dan peningkatan pemahaman kesehatan reproduksi. Untuk mengetahui lebih lanjut kegiatan dan pencapaian program PKPA, silakan kunjungi HYPERLINK "http://www.pkpa-indonesia.org/"

 

Yayasan Bahtera

Yayasan ini dibangun untuk mewujudkan masyarakat yang dapat memberikan perhatian terhadap hak-hak dan perlindungan anak dari segala bentuk eksploitasi, seperti eksploitasi ekonomi, seksual, ataupun kekerasan hak anak dan diskriminasi.

 

Pelayanan langsung Yayasan Bahtera Bandung adalah melakukan pendampingan, konseling, layanan kesehatan, dan pendidikan. Penerima manfaat langsung dari program ini mendapatkan layanan pendidikan untuk 7 anak, konseling bagi 10 anak, layanan kesehatan dasar dan reproduksi untuk 10 orang anak yang 2 di antaranya positif terjangkit penyakit menular.

 

Dari hasil pemetaan, Yayasan Bahtera juga merujuk 2 anak untuk pendaftaran paket ke PKBM Bahtera, 3 anak untuk pendaftaran kursus jahit ke LKP VIDIA, monitoring bagi 4 anak yang sudah mendapakan layanan pendidikan paket dan tutorial di rumah anak, 2 anak mendapatkan paket dan keterampilan menjahit, 3 anak mengikuti pendidikan kejar Paket di PKBM, dan melakukan monitoring serta evaluasi kegiatan yang sudah diberikan.

 

Yayasan Perkumpulan Bandungwangi

Bandungwangi adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat mandiri yang bersifat nirlaba dan non-pemerintah yang berdiri sejak Juli 1999. Bandungwangi adalah satu-satunya LSM di Indonesia yang didirikan dari dan untuk kepentingan pekerja seks perempuan dengan fokus pada hak dan kesehatan reproduksi dan seksual (HKR&S) serta pemberdayaan diri.

 

Yayasan Perkumpulan Bandungwangi menjalankan program layanan langsung dengan memberikan keterampilan bagi anak dan remaja korban perdagangan seks; kursus membuat makanan siap saji, praktek cara berdagang, dan diskusi kecakapan hidup yang diikuti oleh 20 anak dan remaja. Berbekal keahlian tersebut, 5 dari 20 anak dan remaja ini sudah meninggalkan dunia prostitusi, sementara anak lainnya telah membuat kelompok usaha kecil sebagai tindak lanjut dari program di atas.

 

Yayasan Kaseh Puan

Yayasan ini memiliki visi membangun masyarakat yang memahami dan menghormati perempuan agar tercipta keadaan yang lebih baik. Sejak didirikan, Kaseh Puan selalu berupaya memperbesar akses informasi dan pelayanan pendidikan dan kesehatan masyarakat khususnya kaum perempuan.

 

Program pelayanan langsung Yayasan Kaseh Puan (YKP) bagi korban perdagangan seks dilakukan di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau. Pelayanan ini terdiri dari bantuan berupa rumah aman, makanan, pemeriksaan kesehatan terutama kesehatan reproduksi, serta tes HIV melalui Voluntary Conseling and Testing (VCT). Korban yang ditolong dengan bantuan dana dari The Body Shop periode Februari sampai Mei 2011 berjumlah 6 orang: 4 orang dewasa dan 2 orang anak-anak. YKP bersama Reskrim Polri Karimun dan lembaga pemerintah daerah lainnya melakukan pemulangan korban trafficiking ke daerah asal masing-masing, seperti ke Cilacap dan Pontianak.

 

Yayasan KAKAK (Kepedulian Untuk Konsumen Anak)

Yayasan ini berdiri pada tanggal 23 Juli 1997 sebagai wujud keprihatinan, kepedulian, dan perhatian besar sekelompok orang terhadap permasalahan anak dan konsumen.

 

Program pelayanan langsung korban perdagangan seks yang dilakukan Yayasan KAKAK di Solo, Jawa Tengah, dimulai dengan memetakan kebutuhan life skill dan minat korban. Dari hasil pemetaan itu diputuskan 3 orang mendapatkan kursus salon kecantikan, 3 orang lainnya kursus menjahit, 1 orang kursus aksesoris, dan 1 orang lainnya kursus kerajinan flanel. Satu orang anak telah menyelesaikan kursus dan kini siap mengaplikasikan kemampuannya. Sementara untuk 15 orang lainnya belum melakukan kursus karena analisis atas minat dan bakat mereka masih berjalan.

 

Untuk mensukseskan program ini, Yayasan KAKAK melakukan kerjasama dengan sejumlah lembaga, di antaranya Salon Jessie, Chie Nung Handmade, Solo, Bocah Pintar Toys Shop, Solo, LPK Jahit Harto, Klaten, dan Kursus Jahit Bu Anik, Klaten. Kerjasama ini memungkinkan para korban mendapatkan potongan harga dan waktu kursus yang lebih fleksibel. Untuk mengetahui lebih banyak tentang yayasan ini silakan kunjungi HYPERLINK "http://kakak.org/"

 

Yayasan Kusuma Buana

Yayasan ini dibentuk dengan misi untuk meningkatkan pemberdayaan dan peran masyarakat atau sektor swasta dalam pembangunan sosial pada umumnya, dan khususnya pada bidang kesehatan reproduksi, pelayanan kesehatan dasar pengembangan masyarakat melalui pelayanan masyarakat, penelitian, pelatihan, serta pengembangan komunikasi, informasi dan edukasi.

 

Program pelayanan langsung yang dilakukan Yayasan Kusuma Buana berada di salah satu kantong terbesar pengirim anak-anak perempuan dalam industri pelacuran di Indonesia, Desa Bongas, Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu, Jawa Tengah. Pelayanan langsung ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan serta pemenuhan hak–hak anak sebagai bagian dari pencegahan serta pemberdayaan korban ESKA.

 

Sepanjang Februari–Juni 2011 yang telah terlibat dalam program ini adalah 15 korban ESKA serta 35 siswa dan 200 anak desa setempat. Upaya pencegahan dilakukan melalui kegiatan sosialisasi langsung kepada anak dan orang tua dan pembuatan media alternatif yang disebarkan kepada masyarakat. Sementara pemberdayaan korban ESKA dilakukan dengan pemberian kursus keterampilan komputer, tata boga, dan tata busana.