Kisah Perjuangan Tenaga Medis Melawan Covid-19

Perjuangan para tenaga medis dalam melawan Covid-19 belum berakhir. Mereka yang berada di garda terdepan rela mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, dan nyawa demi menyelamatkan ratusan bahkan ribuan pasien berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), hingga positif Covid-19. Banyak dari mereka yang sulit pulang ke rumah untuk bertemu keluarga demi mencegah penularan.

Bagaimana perasaan mereka saat bekerja sebagai dokter dan perawat di tengah pandemi Covid-19? Berikut kami rangkum kisah dari seorang dokter dan perawat dalam perjuangannya melawan Covid-19*. 

 Kerap diselimuti rasa takut

Rasa takut dan khawatir menyelimuti keseharian para tenaga medis. Sementara di sisi lain, mereka bertanggung jawab untuk melayani para pasien dan menenangkan mereka. Dibalik semangat yang mereka tunjukkan, tersimpan kekhawatiran besar karena rentan tertular.Kesedihan juga dirasakan para pahlawan medis karena harus membatasi diri untuk bertemu keluarga. Apalagi menjelang Hari Raya Idul Fitri nanti, tentu tidak memungkinkan bagi mereka untuk dapat pulang ke kampung halaman.

Kekurangan Alat Pelindung Diri

Alat Pelindung Diri (APD) dibutuhkan oleh para pekerja medis untuk menjaga keamanan dan keselamatan di lingkungan yang penuh resiko penularan. Sayangnya, sampai saat ini ketersediaan APD masih terbatas. Bahkan, masih banyak rumah sakit yang tidak memiliki stok sama sekali.

Efisiensi penggunaan APD sangat dijaga agar defisiensi stok tidak terjadi. Berbagai cara dilakukan untuk mengakali keterbatasan stok ini. Masker N-95 disimpan dalam tempat yang bersih agar dapat dipakai ulang hingga 5x. Face Shield dimodifikasi dengan menggunakan plastik mika bening. Selain itu, penggunaan baju Coverall untuk prosedur dengan potensi penularan yang lebih tinggi, dibatasi menjadi 1 baju dalam satu kali shift dinas. Sedangkan pada prosedur lain yang tidak bersifat demikian dan tidak memakan waktu yang lama, petugas hanya menggunakan jas atau kimono kain. 

“Baju Coverall baru akan dilepas, jika semua prosedur perawatan sudah selesai dilakukan dan kebutuhan pasien sudah terpenuhi. Kami berupaya saling membantu satu sama lain, bila satu rekan kami sudah melepas baju Coverallnya dan ternyata ada pasien yang membutuhkan bantuan tiba-tiba, rekan kami yang lain yang belum melepas baju Coverallnya akan membantu. Hal ini bertujuan untuk menghemat penggunaan APD,” ujar salah satu perawat yang kami wawancara.

Keterbatasan APD juga menyebabkan para petugas untuk menahan rasa haus, lapar, hingga keinginan untuk buang air. Sebab, APD bersifat sekali pakai sehingga jika dilepas, APD harus langsung disisihkan dan disterilkan.

Suka duka melawan pandemi Covid-19

Rasa suka dan duka menemani para pahlawan medis selama berjuang melawan pandemi ini. Hal yang paling disyukuri adalah kesempatan untuk dapat menolong orang lain dan memberikan pelayanan sesuai sumpah profesi. Rasa kompak dan saling membantu menjadi keharuan tersendiri di tengah kecemasan dan ketidakpastian ini. 

“Hal positif yang saya rasakan selama menghadapi pandemi Covid-19 ini adalah kesempatan untuk belajar ilmu baru. Mengingat Covid-19 ini adalah jenis virus baru, banyak hal baru yang saya pelajari tentang bagaimana merawat pasien dengan infeksi virus ini. Mulai dari cara melakukan screening awal, mengenali tanda dan gejalanya, cara penularannya, dan proses merawat pasien. Saya menjadi belajar mengenal APD yang biasanya saya belum pernah pakai seperti baju Coverall dan Face Shield. Saya juga mendapat ilmu baru dari beberapa webinar yang saya ikuti. Saya juga merasa senang karena banyak orang menjadi lebih rajin mencuci tangan, artinya prinsip hidup bersih dan sehat semakin banyak diterapkan,” jelasnya. 

Pengalaman pertama bekerja di tengah pandemi Covid-19 juga menjadi “rewarding experience” yang tak terlupakan bagi seorang perawat. Di antara petugas kesehatan lainnya, perawat menghabiskan waktu paling lama berinteraksi dengan pasien sehingga, menjadikannya sosok paling rentan terhadap virus ini. 

Tentu keterbatasan waktu untuk berkumpul bersama keluarga menjadi duka yang dirasakan oleh para petugas. Belum lagi, masih banyak pasien yang tidak jujur dan kooperatif saat berobat, seolah tidak peduli dengan risiko yang bisa saja terjadi. Beberapa dokter dan perawat menjadi positif Covid-19 akibat menangani pasien yang menyembunyikan riwayat kontak atau perjalanannya. Jerih payah tim medis yang berjuang sekuat tenaga seakan tidak dihargainya.

Perjuangan selama bulan Ramadan

Menjalankan tugas sebagai tenaga medis selama pandemi di bulan Ramadan ini menjadi tantangan tersendiri. Tantangannya adalah berupaya untuk tetap menjaga imunitas dan mencegah dehidrasi agar secara fisik tetap sehat untuk menjalankan perannya dengan maksimal. Penggunaan APD yang terlalu lama memicu dehidrasi dan kurangnya oksigen sehingga risiko kelelahan semakin tinggi. Upaya yang dilakukan adalah memakan menu yang sehat saat sahur dan berbuka, sertai asupan vitamin yang cukup. Di samping tantangan fisik, sisi positif juga dirasakan para pahlawan medis. Intensitas ibadah yang lebih tinggi memberikan rasa tenang secara psikologis bagi mereka sehingga, perasaan cemas selama bertugas pun berkurang.

Keluar dari zona nyaman

Perawat yang kami wawancara ini bertugas di rumah sakit pusat rujukan nasional di bidang otak dan saraf, dan bukan rujukan nasional untuk Covid-19. Namun, kondisi RS rujukan yang semakin hari semakin penuh, membuat instansinya tetap menerima pasien dengan gejala infeksi Covid-19 yang disertai gangguan saraf. Hal tersebut membuat ia dan rekan sesama tenaga medis harus keluar dari zona nyaman untuk cepat beradaptasi.

Meningkatkan higienitas

Para tenaga medis juga menjadi lebih waspada terhadap kebersihan diri. Selain rutin mencuci tangan, petugas akan mandi di rumah sakit saat dinasnya berakhir dan mandi kembali saat sampai di rumah. Sejak kebijakan PSBB diterapkan, pertugas yang biasa menggunakan transportasi online harus mencari alternatif lain agar bisa sampai di tempat kerja. “Semua proses adaptasi yang saya dan rekan saya sesama perawat lakukan membuat kami melihat pandemi ini sebagai proses belajar menjadi versi yang lebih baik”, tuturnya.

The Body Shop® percaya bahwa dengan tetap berada di rumah, bersama kita bisa memerangi Covid-19 dan membantu para tenaga medis. Kami ingin mengajak customer setia The Body Shop® untuk ikut berjuang dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 dengan berdonasi melalui WeCare.id agar lebih banyak lagi tenaga medis yang terlindungi dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang layak.Kamu ingin mengucapkan terima kasih kepada tenaga medis atas perjuangannya melawan Covid-19? Ikuti terus update kami di instagram @thebodyshopindo. 

Percayalah, sekecil apapun upaya yang kamu lakukan akan sangat bermanfaat bagi mereka. TOGETHER, WE FIGHT! #TBSLAWANCOVID19

Baca juga cerita tentang pesan dan harapan para pahlawan medis di sini.






© 2020 THE BODY SHOP INTERNATIONAL LIMITED ® A REGISTERED TRADEMARK OF THE BODY SHOP INTERNATIONAL LIMITED ™ A TRADEMARK OF THE BODY SHOP INTERNATIONAL LIMITED ALL RIGHTS A THE BODY SHOP FRANCHISE OWNED AND OPERATED UNDER LICENSE BY PT. MONICA HIJAULESTARI